Posted by Unknown | 2 comments

Ilmuku hadir untuk Mereka

by: Alfin Rhomansyah

Illustrasi kegiatan mengajar anak-anak jalanan 

Pendidikan sangatlah penting bagi kehidupan, baik dimasa sekarang maupun masa depan. Untuk mendapatkan pendidikan ada berbagai cara. Ya, tidak harus dengan sekolah, bisa dengan les, bimbingan, privat, belajar sendiri, mencari data di internet, dan sebagainya. Pepatah bilang sih, banyak jalan menuju Roma.

Sekolah adalah salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan pendidikan, memang sih tidak harus dengan cara ini. Tapi ketika kita bisa menjalaninya, kenapa harus ditinggalkan? .Berbanggalah kalian yang telah dapat merasakan belajar di bangku pendidikan yaitu sekolah, karena di luar, jauh dari anda, masih banyak yang ingin merasakan Pendidikan formal/sekolah, namun keterbatasan membuat hal itu menjadi angan belaka.

Sebut saja namaku Fikri, pemuda biasa yang berkesempatan untuk duduk di bangku sekolah. Ya, aku sangat beruntung, dan aku tak akan pernah sekalipun sia-siakan kesempatan ini. Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan, di sekolah aku dikenal anak yang sangat rajin, semua guru mengenalku, dan bahkan tiap kali ada lomba, namaku selalu dipanggil. Sudah bisa ditebak, aku yang sering memenangkannya, ini menjadi kebanggan bagiku, aku bisa mengharumkan nama sekolahku. Tidak seperti temanku, Fino. Aku sedikit prihatin melihatnya. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Orang tuanya selalu sibuk mencari nafkah, tak pernah ada waktu terluangkan untuknya. Yang membuatku heran adalah, mengapa dia kurang serius dalam sekolahnya, jarang menghiraukan tugas-tugas, pr pun tak pernah dia kerjakan. Padahal orang tuanya telah membanting tulang untuk membiayainya agar dia bisa menjadi orang yang sukses.

Sebenernya anak itu pinter, tapi sering malas dalam pelajaran tertentu. Terutama klo pelajaran Pkn ataupun Sejarah yang penuh dengan teori, bisa tidur pulas dia. Dia sempet dikenal pinter matematika, namun sayangnya dia juga jarang sekali mengerjakan pekerjaan rumahnya, kalaupun ngerjain ya waktu ada jam kosong disekolah. Tiap hari dia duduk sendirian dikelas, jarang ada anak yang mau deket sama dia, mungkin karena dia juga jarang berkumpul dengan teman-teman ketika ada kegiatan kelas. Dia mesti kemana-mana sendirian, itu alasan kenapa semuanya tidak menganggap keberadaannya. Aku pun yang sudah berteman selama 2 tahun dengan dia tidak pernah bicara langsung dengannya ditambah dengan aku selalu disibukkan oleh harapan para guru untuk mengikuti lomba-lomba.

Kenapa aku menceritakan tentang dia? karena sebenarnya dia itu bukan anak yang malas, kecuali dalam pelajaran pkn dan sejarah. Lantas kenapa dia sering tidak mengerjakan tugas? Itulah pertanyaan yang terlintas dipikiranku. Dulu ketika pertama kali aku mengenalnya, aku kagum, karena aku merasa memiliki rival yang bisa membuatku semakin giat dalam belajar dan berkompetisi. Ditambah lagi ketika pelajaran awal dulu, yaitu matematika. Awal pelajaran itu, guru kami memberikan pertanyaan yang benar-benar membuat siswa sekelas berpikir yaitu, misal A=1; B=2; dan X=0, maka nilai dari A*B*C*D..... *Z= ? pertanyaan yang simpel, namun karena masih awal pembelajaran semua anak bingung. Gurupun bertanya “siapa yang dikelas ini masuk dengan danem tertinggi? “ . aku pun menjawab sambil mengangkat tangan “saya pak” lalu gurupun menyuruhku untuk menjawabnya. Aku masih sibuk menghitung dengan secrik kertas buramku, lalu seraya berkata “pak maaf, beri saya waktu 2 menit untuk selesaikan ini” lalu guru itu menjawabku dengan tertawa “hehehe, 2 menit? Untuk apa? Bagaimana jika saya beri kamu waktu 1 minggu hanya untuk menjawab satu pertanyaan kecil ini?” teman-teman sekelas pun mentertawakanku, aku cukup dibuat malu. Lalu tiba-tiba guru berkata “iya kamu, silahkan” ternyata ada anak dibelakangku yang mengangkat tangan hendak menjawab pertanyaan. “jawabannya 0 pak” ujar anak itu. Aku pun berfikir, dan gurupun kembali memberikan pertanyaan “kok bisa 0 darimana?”. Aku tersenyum agak sinis karena berpikir pasti anak itu tidak bisa menjelaskan. Mungkin anak itu hanya mengarang jawaban. Namun tanpa menunggu, anak itu menjawab “karena dalam A sampai Z itu ada X pak, dan karena semua komponen dikalikan, dan ada X yang bernilai 0, maka hasil ahkirnya adalah 0, karena berapapun jika dikali 0, maka hasilnya adalah 0” akupun kaget mendengarkan penjelasannya seraya menoleh untuk mengetahui siapa anak itu, dan ternyata anak itu bernama fino.

Dari situlah aku merasa tertantang untuk memperdalam ilmu. Namun ternyata setengah bulan berikutnya dengan pelajaran pkn diminta mengumpulkan tugas yg diberikan sebelumnya, semua anak mengumpulkan, kecuali fino. Lalu dia maju kedepan untuk menghadap guru dan berkata “ bu, bisakah saya meminta sedikit waktu untuk ini? 5 menit cukup untuk menyelesaikan semua ini “.entah kenapa, fino belum menyelesaikan tugas itu, lalu guru pun menjawab “kamu menyepelehkan saya fino? bila dengan waktu seminggu  kamu tidak dapat menyelesaikan tugas dari saya, saya dapat menambahkan kamu waktu belajar selama setahun” . “baiklah bu, saya tahu maksud anda, maaf bila saya telah mengecewakan anda” kemudian fino keluar kelas untuk menjalankan hukuman dengan rasa bersalah. Teman sebangkuku pun berkata “dasar anak aneh !” aku pun hanya terdiam agak acuh. Dan ternyata bukan hanya dalam satu pelajaran itu, sering fino tidak mengerjaan pekerjaan-pekerjaan rumah semua pelajaran. Omelan guru selalu dia dapatkan.

Pelajaran disemester ini pun sudah hampir selesai. Bertepatan dengan itu, ada info bahwa sekolah akan mencari perwalikan untuk mengikuti lomba fisika. Akupun tertarik mengikutinya. Aku mulai mendekati guru fisika, untuk bertanya-tanya tentang lomba tersebut dan juga tentang materi-materi fisika, dengan tujuan agar guru fisika tau bahwa saya anak yang rajin dan dapat memilih saya untuk diikutkan lomba itu. Lalu guru fisika menawarkan kepada saya “fikri, kamu berminat mengikuti lomba ini?” akupun mengangguk dan tersenyum. Lalu guru itu menambahkan “ baiklah namun kebetulan saya telah ada calon anak yang hendak mewakili sekolah untuk mengikuti lomba itu, namun kamu bisa saya jadikan cadangan”  mendengar hal itu, senyumku mulai memudar karena aku hanya dijadikan sebagai cadangan.

Ketika pelajaran berlangsung, tiba-tiba ada surat ijin yang memerintahkan untuk aku dan fino segera ke ruang perpustakaan. Akupun bingun kenapa aku dipanggil ke perpustakaan, dan kenapa dengan fino. Sesampainya diperpus, barulah guru fisika menjelaskan bahwa yanng akan dijadikan calon yang mewakili sekolah untuk lomba adalah fino. Akupun kaget lalu menghampiri guru fisika sambil berkata agak berbisik “maaf bu, ibu tidak salah? Fino itu itu anaknya malas bu, tugas-tugas tidak pernah dia kerjakan, kenapa tidak saya? Saya bisa mendatangkan guru privat khusus untuk membimbing saya agar bisa memenangkan lomba ini” guru fisika pun menjawab “iya fikri, memang fino jarang sekali mengerjakan pr, namun saya bisa melihat potensi yang sebenarnya ia miliki, dan saya akan mencoba merubahnya agar bisa menjadi lebih rajin” lalu guru fisika memanggil fino “oh iya fino, maaf saya lupa menginformasikan kepada kamu bahwa kamu akan mewakili sekolah untuk mengikuti lomba fisika minggu dengan di Unair. Dan fikri sebagai cadangan dan rival kamu, sehingga ketika fikri bisa membuktikan bahwa dia lebih baik dari kamu, maka dialah yang akan ibu pilih, mengerti? Dan sekarang mari kita mulai pelatihannya” dalam pelatihan itu, fino terlihat sanget serius dan sangat fokus, serta dapat menjawab semua pertanyaan dari guru yang aku masih bingung dengan itu. Dan aku mulai menyadari apa yang dikatakan guru fisika sebagai potensi dia.

Pelatihan berjalan 4 hari dengan memotong jam pelajaran sekolah. Disitu fino selalu lebih unggul dari aku. Aku sangat bingung, ketika dia lebih pintar dari aku, lantas kenapa dia tidak pernah mengerjakan tugas-tugas  dan prnya? , kemudian untuk 2 hari selanjutnya guru fisika meminta untuk pelatihan sepulang sekolah. Keesokan harinya aku telah diperpus dengan guru fisika sambil aku membaca buku-buku referensi fisika, selama 4 hari ini aku memang mengalami pengembangan, aku menjadi semakin paham. 1 jam berlalu dan fino pun tak kunjung datang. Akhirnya pelatihanpun dimulai tanpa dia.

Keesokan harinya lagi di kelas aku bertanya pada fino, kenapa kemarin dia tidak mengikuti pelatihan, dan dia beralasan bahwa dia ada urusan keluarga mendadak. Dan ketika aku tawarkan untuk ikut pelatihan nanti, pelatihan terakhir dan akan di tes untuk memilih siapa yang mewakili sekolah untuk lomba besok, dia menjawab “oke, tapi nanti aku datang agak terlambat”. Sepulang sekolah akupun segera ke perpus untuk mempersiapkan diri, belajar, sambil menunggu fino. Namun ternyata, seperti hari sebelumnya fino tak kunjung datang. Guru fisikapun berkata “sepertinya memang dia ada hal yang sangat penting, mungkin kamu bisa mencoba menyelesaikan soal-soal ini terlebih dahulu. Ketika kau berhasil sepenuhnya mengerjakan dengan benar, maka kaulah yang akan terpilih. Akupun mengerjakan dengan penuh keseriusan dan akhirnya aku berhasil menjawab dengan benar 45 dari 50 soal. Dan aku terpilih untuk megikuti lomba besok, meskipun hasilku tidak benar 100%.

Waktupun mulai beranjak sore, akupun segera pulang. Namun sebelum itu aku berencana untuk datang ke rumah fino guna menanyakan padanya kenapa dia tidak datang. Sesampainya di depan persumpangan, aku tersesat lalu bertanya pada sepasang pengamen “permisi pak,bu, mau nanya, tau rumahnya fino tidak ?” sang pengamen pun berdiskusi “fino?, oh fino pak guru itu loh mungkin bu” akupun menyela “oh bukan pak, bukan guru, tapi masih pelajar sama seperti saya” lalu para pengamen itu berkata “mungkin itu yang kamu maksud, sebenarnya kami tidak tau rumahnya, namun kami tau dimana tempat dia mengajar” . mereka mengantarku ke suatu tempat dengan rasa bingung masih beredar dikepalaku.

Sesampainya di tempat itu, ada anak kecil yang merupakan anak pengamen itu datang menyambut kami dengan bertanya “ibu, kok sudah pulang?” pengamen menjawab” tidak nak, ini ibu hanya mengantar tamu, bisa kamu panggilkan pak.guru? ibu dan bapak mau kembali bekerja” anakpun menjawab “iya bu, mas, tunggu sebentar yaa”. Suasana inipun sangat membingungkanku, para pengamen, anak kecil, pak guru, apa maksud semua ini.

Lalu anak kecil itu kembali menghampiriku dan mengajakku masuk sambil berkata “mas, ayo masuk, bapak guru masih sibuk”. Dan aku diajak masuk kedalam ruangan yang cukup kumuh seperti rumah kosong dan melihat banyak sekali buku-buku bekas, anak-anak jalanan yang sedang belajar, dan juga para orang tua yang sedang belajar menulis dan membaca. Lalu disudut tempat itu terlihat seseorang yang disebutkan anak kecil dan pengamen tadi sebagai pak guru, dan ternyata, dialah fino temanku, fino yang selama ini menyendiri di kelas, jarang meluangkan waktu bersama teman, ternyata memiliki kehidupan yang sangat indah, bisa membantu orang-orang jalanan yang masih memiliki keinginan untuk belajar. Disitulah aku mulai menyadari, mengapa dia sering tidak mengerjakan tugas, karena kesibukannya untuk mengajari anak-anak jalanan dan para orang tua jauh lebih penting dibandingkan dengan tugas sekolahnya. Disinilah aku terenyuh seraya menangis dan kemudian merangkul fino sambil meminta maaf “maaf, karena selama ini aku menyepelehkanmu, ternyata kamu sangat mulia, dan seharusnya kamu yang lebih layak unntuk mengikuti lomba besok daripada aku, kemampuanmu jaduh diatasku, meskipun kau tak pernah mengerjakan tugas, namun kau selalu fokus memperhatikan ketika guru menerangkan, dan kau salurkan ilmumu kepada orang-orang yang membutuhkan”.

Jawaban fino singkat “tidak, buktikanlah kepadaku bahwa kau mampu membawa pulang piala untukku, dan untuk mereka”. Akupun menjadi termotivasi dan akupun berjanji akan memenangkan lomba serta aku akan menemaninya untuk mengajari anak-anak jalanan dan membantu mereka agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya.



Bener kata pepatah, banyak jalan menuju roma, tapi tetap harus melewati daratan (dari pelabuhan ataupun bandara) sama halnya dengan pendidikan, banyak jalan untuk mendapatkannya tetapi harus dengan cara belajar, dan mengajari.


Monggo Comment!

2 comments:

  1. afriLLaFight!9/27/13, 9:50 PM

    interesting.. inspiring :)

    but there is an eval, in 3rd paragraph 11th row that should be 'tdk mnghiraukan'
    but it's okeee :D

    ReplyDelete